Menjajagi kelemahan (Persija vs Dukla Praha-Ceko)
Juara pssi, persija, berhadapan dengan kesebalasan tamu dari cekoslowakia, dukla praha di senayan. skor 3-0 buat kemenangan dukla. kesebelasan persija masih harus memupuk kestabilan dalam permainan cepat. RABU pekan lalu, sekitar 40.000 penonton di Stadion Utama Senayan sempat menyaksikan Persija, Juara PSSI menempuh ujian pertama. Karena lawannya Dukla Praha, team utama Cekoslowakia, ditambah lagi mereka asuhan Josef Masopust — itu pemain Sisa Dunia pada zaman jayanya Puskas dan Di Stefano – yang pada tahun 1963 ikut menghajar PSSI Selection di Semarang 12–1, maka orang pun mafhum Persija akan “kena batunya”. Tapi agaknya ramalan pasaran taruhan yang menjagoi team tamu dengan memberikan dua-setengah voor untuk Kesebelasan Ibukota, hampir-hampir meleset. Sebab Persija pada babak pertama ternyata dapat menunjukkan kebolehannya dalam mengembangkan kerjasama dan teknik permainan pada tempo tinggi yang dituntut permainan tamu. Read more…
Hadiah Juara Buat Warga Kota (Persija Juara 1973)
Tempo 22 Desember 1973. Kesebelasan Persija berhasil mengalahkan kesebelasan Persebaya (1-0) dalam grandfinal kejuaraan nasional PSSI. Persebaya bermain kasar dan nyaris terjadi baku hantam. Wasit Djuremi tak berwibawa.Kembalinya Abdul Kadir
Ke Korea Tanpa Wibawa ?
Hasil Maksimal Tim Ala Kadarnya
Piala Marah Halim 1973, Turnamennya Mahal, Mutu Tidak
MENGAPA penonton di Stadion Teladan Medan pada final PSMS Persija bisa muntah melebihi kapasitas stadion? Pertanyaan ini membikin Ketua OC, Kamaruddin Panggabean tercenung dan bingung. “Bagian keamanan tidak beres”, katanya pada TEMPO, sembari melihat pada mobil kebakaran yang sedang menyemprot air ditepi sintel-ban Stadion Teladan yang begitu berjubel oleh pencandu bola yang fanatik itu. Lalu ia juga menunjukkan tangannya kearah pintu selatan stadion yang jebol didobrak penonton. Read more…
Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar
Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar KOMPAS/Kartono Ryadi Ricky Yakobi (kiri) dan kawan-kawan saat mengalahkan Burma (sekarang Myanmar) 4-1 di semifinal SEA Games 1987. Indonesia akhirnya tampil sebagai juara untuk pertama kalinya.
“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku…. Indonesia raya merdeka-merdeka, hiduplah Indonesia raya….” JUTAAN anak bangsa tak kuasa menahan haru mendengar lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang di langit biru. Rasa bangga tak terkira, karena hanya para juaralah yang berhak menyanyikan lagu kebangsaannya di arena pertarungan antarbangsa. Dan, timnas Indonesia berhak menyanyikan lagu sakral tersebut sebagai imbalan mengangkangi medali emas SEA Games 1987. Untuk pertama kalinya pula, sepak bola Indonesia mampu mengibarkan bendera Merah Putih di kejuaraan antarbangsa. Saat itu, langit bulan September betul-betul terasa biru bagi rakyat Indonesia. Lewat gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 ke gawang Malaysia di partai final, untuk pertama kalinya Indonesia bisa merengkuh medali emas sepak bola di ajang SEA Games. Read more…
Argentina, Sang Juara Dunia 1978
Tempo 1 Juli 1978. Argentina berhasil sebagai juara dunia setelah mengalahkan kesebelasan Belanda di Stadion River Plate, Buenos Aires. pencetak gol terbanyak, Mario Kempes, bintang kesebelasan Argentina. (or)Berita Kalah Dari Australia
Tempo 05/III 07 April 1973. Pemain PSSI mengalami kekalahan 2-3 dari kesebelasan Irak waktu bertanding di Australia. berarti Indonesia tersingkir untuk masuk ke-16 besar kejuaraan dunia. sebelumnya PSSI mempunyai harapan.
DENGAN derap langkah tantara tertawan kesebejasan PSSI memasuki kamar pakaian. Suasana hening. Semua terdiam. Beberapa pemain duduk di lantai – terkulai. Iswadi membaringkan diri di balai pasien, seolah minta pertolongan yang pertama. Jeruk jeruk yang terkupas dibiarkan tak terjamah. Kostum merah putih yang berlambang Bhinneka Tunggal Ika basah kuyup dibasuh-keringat bercarnpur air hujan – tidak pula memburu mereka berganti pakaian. Usainya pertandingan’ ke-5 dengan skor klasik 2,-3 untuk kemenangan Kesebelasan Irak bukan saja berartj tersingkirnya Indonesia dari peluang untuk menanjak ke “16 besar” Kejuaraan Dunia. Malahan – leliih pedih lagi — mengungkit sekeranjang kenangan. “Suasananya seperti di, Rangoon saja”, gumam Suaib membangkitkan kembali saat-saat pahit dari kekalahan ‘Indonesia terhadap Israel setahun yang sham (TEMPO, 15 April 1972). Read more…
Si Hitam Dari Irian
Tempo 24 Maret 1973. Kesebelasan irian jaya yang teknik dan ketrampilannya belum pantas dipuji, kalah 2-1 dari kesebelasan hitachi dari jepang. ada beberapa pemain irian yang berbakat, yang bermain cukup lumayan.
MENGALAHKAN lawan dalam angan-angan memang terlalu gampang. Kenyataanya yang tidak selalu begitu. “Bagaimana, mau menang atau kalah?”, tanya Presiden pada anak-anak Kesebelasan Irian Jaya minggu lalu di Bina Graha. Mereka hanya tersenyum. Seperti biasanya Acub Zaenal dengan cepat menjawab: “Kemungkinan kita menaag 3-1 , pak”. Apa yang terjadi kemudias sulit untuk diramalkan Acub Zaenal. Di bawah gemercik hujan membasuh Senayan dan terlebih dahulu telah ketinggalan: 1-0. Kesebelasas Hitachi menundukkan Irian Jaya: 2-1. Read more…
Komentar