Menjajagi kelemahan (Persija vs Dukla Praha-Ceko)

January 21, 2010 indrajabrix Leave a comment

Juara pssi, persija, berhadapan dengan kesebalasan tamu dari cekoslowakia, dukla praha di senayan. skor 3-0 buat kemenangan dukla. kesebelasan persija masih harus memupuk kestabilan dalam permainan cepat. RABU pekan lalu, sekitar 40.000 penonton di Stadion Utama Senayan sempat menyaksikan Persija, Juara PSSI menempuh ujian pertama. Karena lawannya Dukla Praha, team utama Cekoslowakia, ditambah lagi mereka asuhan Josef Masopust — itu pemain Sisa Dunia pada zaman jayanya Puskas dan Di Stefano – yang pada tahun 1963 ikut menghajar PSSI Selection di Semarang 12–1, maka orang pun mafhum Persija akan “kena batunya”. Tapi agaknya ramalan pasaran taruhan yang menjagoi team tamu dengan memberikan dua-setengah voor untuk Kesebelasan Ibukota, hampir-hampir meleset. Sebab Persija pada babak pertama ternyata dapat menunjukkan kebolehannya dalam mengembangkan kerjasama dan teknik permainan pada tempo tinggi yang dituntut permainan tamu. Read more…

Categories: Pertandingan

Hadiah Juara Buat Warga Kota (Persija Juara 1973)

January 21, 2010 indrajabrix Leave a comment
Tempo 22 Desember 1973. Kesebelasan Persija berhasil mengalahkan kesebelasan Persebaya (1-0) dalam grandfinal kejuaraan nasional PSSI. Persebaya bermain kasar dan nyaris terjadi baku hantam. Wasit Djuremi tak berwibawa.
DI bawah tatapan mata gubernur Moh. Noer, kesebelasan Persebaya berbuat segala-galanya untuk merebut kembali gelar juara yang pernah direnggutnya 21 tahun yang lalu — termasuk bermain keras. Namun lebih dari 100.000 perionton Stadion Utama menyaksikan pula bahwa permainan keras yang menjurus kotor itu justru merupakan racun yang membunuh peluang juara Persebaya. Malam itu, Selasa tanggal 12 Desember, praktis merupakan peristiwa ulangan dua tahun yang lalu (6 Oktober 1971) di antara kedua kesebelasan dalam memperebutkan Kejuaraan Nasional PSSI. Dan dengan posisi tanpa kompromi yang kurang menguntungkan Persija, semula para pecandu bola dihadapkan pada teka-teki, taktik dan strategi apa yang akan dikembangkan oleh kedua kesebelasan pada saat-saat yang menentukan itu. Read more…
Categories: Pertandingan

Kembalinya Abdul Kadir

January 16, 2010 indrajabrix Leave a comment
Tempo 15 September 1973. 18 pemain sepak bola masuk TC PSSI untuk mengadakan piala presiden. Pemain diperkuat Abdul Kadir yang sejak dulu ambil cuti. Kini kadir hidup lebih terjamin karena dia diterima sebagai karyawan warna agung.
18 pemain yang semula dipanggil masuk TC PSSI ke President’s Cup memang pas-pasan. Dengan kata lain mereka hampir dipastikan akan diberangkatkan semua. Namun ketua Komtek PSSI, Suparjo, bukan tidak tahu bahwa dengan jumlah yang minimal itu, semangat berkompetisi di antara para pemain dalam masa penggemblengan di TC bisa turun. Maka dalam konperensi pers dengan para wartawanolahraga pekan lalu, ia menyebutkan ke-5 pemain tambahan: Rake (penjaga gawang), Sofyan Hadi (gelandang), Abdul Kadir, Suwendi dan Irawan Sukrna (penyerang). Read more…
Categories: Tokoh

Ke Korea Tanpa Wibawa ?

January 12, 2010 indrajabrix Leave a comment
Tempo 1 september 1973. 18 pemain PSSI disiapkan ke turnamen president’s cup di Seoul. Pemain diambil dari Jakarta, Medan, Surabaya, Ujung Pandang. Dianggap para pemain asal jalan, bahkan memenuhi selera tim manajer.

Ke-18 pemain yang dipanggil measuki TC PSSI ke Turnamen President’s Cup di Seoul (tanggal 22 September sampai I Oktober), bukanlah hasil main comot dari ke-16 peserta PON VIII. Jauh hari sebelum pertandingan PON berlangsung, tokoh-tokoh sepakbola seperti Kadir Yusuf, Saelan, L.H. Tanoto, Chris Ong dan Arlis diikut-sertakan bersama anggota Komtek PSSI untuk mengintai dan menilai pemain-pemain yang patut diberi kesempatan untuk membela nama Indonesia di gelanggang internasional. Dan ke-18 pemain tersebut, boleh dipastikan adalah hasil seleksi Komtek pimpinan Suparjo dari kumpulan pemain-pemain menonjol yang dijaring para mata-mata PSSI itu. Read more…
Categories: Nasional

Hasil Maksimal Tim Ala Kadarnya

December 25, 2009 indrajabrix Leave a comment
Tempo 30 Juni 1973. Gagalnya PSSI merebut piala anniversary Football Tournament’73 di Jakarta karena absennya beberapa pemain. Seusai turnamen diadakan pertemuan pemain & pengurus PSSI. Soh Chin Aun sebagai pemain terbaik.

NASIB PSSI memang sebulat bola, sejauh dikaitkan dengan Jakarta Amlivcrsary FootballTournament 1973. Tidak hadirnya Yuswardi dan Tumsila sakitnya Anwar Ujang dan Andi Lala, tidak dipanggilnya Abdul Kadir, ditambah lagi dengan pencoretan Risdianto dan Widodo dari TC, menyuguhkan rasa pesimisme yang tidak terlalu pagi: PSSI bakal menduduki juru kunci. Terlebih lagi karena lawan yang akan dihadapi bukan kesebelasan-kesebelasan yang enteng. Korea Selatan sedang merintis jalan ke Kejuaraan Dunia 1974 di Muenchen. Burma dan Malaysia ngendon dengan team Olimpiade-nya. Ya, hanya PSSI saja yang tampaknya sedang meramu-ramu antara pemain senior dan junior. Maka, jika ia masih memberi sepercik harapan bagi suporter PSSI yang fanatik, itu tidak lebih dari dalih “bola itu bulat”. Read more…
Categories: Pertandingan

Piala Marah Halim 1973, Turnamennya Mahal, Mutu Tidak

December 14, 2009 indrajabrix Leave a comment
TEMPO, 5 Mei 1973. Pada turnamen piala marah halim terjadi banyak kericuhan. atas perintah ketua oc tiket pertandingan yang sebelumnya tak laku, dijual lagi untuk biaya regu sum-ut di pon viii. final psms-persija tak bermutu.
Turnamen Marah Halim yang baru lalu ternyata berekor heboh yang cukup menggemparkan masyarakat sepakbola. Koresponden TEMPO di Medan, Zakaria Passe, yang mengover dari dekat, melengkapi komentar TEMPO, 5 Mei 1973. Berikut ini laporannya:

MENGAPA penonton di Stadion Teladan Medan pada final PSMS Persija bisa muntah melebihi kapasitas stadion? Pertanyaan ini membikin Ketua OC, Kamaruddin Panggabean tercenung dan bingung. “Bagian keamanan tidak beres”, katanya pada TEMPO, sembari melihat pada mobil kebakaran yang sedang menyemprot air ditepi sintel-ban Stadion Teladan yang begitu berjubel oleh pencandu bola yang fanatik itu. Lalu ia juga menunjukkan tangannya kearah pintu selatan stadion yang jebol didobrak penonton. Read more…

Categories: Opini

Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar

December 12, 2009 indrajabrix Leave a comment

Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar KOMPAS/Kartono Ryadi Ricky Yakobi (kiri) dan kawan-kawan saat mengalahkan Burma (sekarang Myanmar) 4-1 di semifinal SEA Games 1987. Indonesia akhirnya tampil sebagai juara untuk pertama kalinya.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku…. Indonesia raya merdeka-merdeka, hiduplah Indonesia raya….” JUTAAN anak bangsa tak kuasa menahan haru mendengar lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang di langit biru. Rasa bangga tak terkira, karena hanya para juaralah yang berhak menyanyikan lagu kebangsaannya di arena pertarungan antarbangsa. Dan, timnas Indonesia berhak menyanyikan lagu sakral tersebut sebagai imbalan mengangkangi medali emas SEA Games 1987. Untuk pertama kalinya pula, sepak bola Indonesia mampu mengibarkan bendera Merah Putih di kejuaraan antarbangsa. Saat itu, langit bulan September betul-betul terasa biru bagi rakyat Indonesia. Lewat gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 ke gawang Malaysia di partai final, untuk pertama kalinya Indonesia bisa merengkuh medali emas sepak bola di ajang SEA Games. Read more…

Categories: Pertandingan

Argentina, Sang Juara Dunia 1978

December 9, 2009 indrajabrix Leave a comment
Tempo 1 Juli 1978. Argentina berhasil sebagai juara dunia setelah mengalahkan kesebelasan Belanda di Stadion River Plate, Buenos Aires. pencetak gol terbanyak, Mario Kempes, bintang kesebelasan Argentina. (or)
SUASANA di Argentina, dulu apalagi kini, masih tetap riuh dan panas. Tapi sewaktu Mario Kempes dan Ricardo Bertoni berhasil menjaringkan 2 gol kemenangan ke gawang kiper Jan Jongbloed dalam final Piala Dunia di stadion River Plate, Buenos Aires sore Minggu, 25 Juni lalu dan sekaligus mengantar tim Argentina ke tangga juara, negeri itu tiba-tiba berubah menjadi sorga. Anggur dan Champagne mengguyur tenggorokan warga Argentina sepanjang malam di mana-mana. Gol kemenangan yang menyisihkan kesebelasan Belanda itu terjadi dalam perpanjangan waktu. Setelah 2 x 45 menit pertama kedua tim finalis itu berbagi angka seri 1-1. Read more…
Categories: Internasional

Berita Kalah Dari Australia

December 4, 2009 indrajabrix Leave a comment

Tempo 05/III 07 April 1973. Pemain PSSI mengalami kekalahan 2-3 dari kesebelasan Irak waktu bertanding di Australia. berarti Indonesia tersingkir untuk masuk ke-16 besar kejuaraan dunia. sebelumnya PSSI mempunyai harapan.

DENGAN derap langkah tantara tertawan kesebejasan PSSI memasuki kamar pakaian. Suasana hening. Semua terdiam. Beberapa pemain duduk di lantai – terkulai. Iswadi membaringkan diri di balai pasien, seolah minta pertolongan yang pertama. Jeruk jeruk yang terkupas dibiarkan tak terjamah. Kostum merah putih yang berlambang Bhinneka Tunggal Ika basah kuyup dibasuh-keringat bercarnpur air hujan – tidak pula memburu mereka berganti pakaian. Usainya pertandingan’ ke-5 dengan skor klasik 2,-3 untuk kemenangan Kesebelasan Irak bukan saja berartj tersingkirnya Indonesia dari peluang untuk menanjak ke “16 besar” Kejuaraan Dunia. Malahan – leliih pedih lagi — mengungkit sekeranjang kenangan. “Suasananya seperti di, Rangoon saja”, gumam Suaib membangkitkan kembali saat-saat pahit dari kekalahan ‘Indonesia terhadap Israel setahun yang sham (TEMPO, 15 April 1972). Read more…

Categories: Pertandingan

Si Hitam Dari Irian

November 6, 2009 indrajabrix Leave a comment

Tempo 24 Maret 1973. Kesebelasan irian jaya yang teknik dan ketrampilannya belum pantas dipuji, kalah 2-1 dari kesebelasan hitachi dari jepang. ada beberapa pemain irian yang berbakat, yang bermain cukup lumayan.

MENGALAHKAN lawan dalam angan-angan memang terlalu gampang. Kenyataanya yang tidak selalu begitu. “Bagaimana, mau menang atau kalah?”, tanya Presiden pada anak-anak Kesebelasan Irian Jaya minggu lalu di Bina Graha. Mereka hanya tersenyum. Seperti biasanya Acub Zaenal dengan cepat menjawab: “Kemungkinan kita menaag 3-1 , pak”. Apa yang terjadi kemudias sulit untuk diramalkan Acub Zaenal. Di bawah gemercik hujan membasuh Senayan dan terlebih dahulu telah ketinggalan: 1-0. Kesebelasas Hitachi menundukkan Irian Jaya: 2-1. Read more…

Categories: Pertandingan