MENGAPA penonton di Stadion Teladan Medan pada final PSMS Persija bisa muntah melebihi kapasitas stadion? Pertanyaan ini membikin Ketua OC, Kamaruddin Panggabean tercenung dan bingung. “Bagian keamanan tidak beres”, katanya pada TEMPO, sembari melihat pada mobil kebakaran yang sedang menyemprot air ditepi sintel-ban Stadion Teladan yang begitu berjubel oleh pencandu bola yang fanatik itu. Lalu ia juga menunjukkan tangannya kearah pintu selatan stadion yang jebol didobrak penonton. (more…)
December 14, 2009
Piala Marah Halim 1973, Turnamennya Mahal, Mutu Tidak
December 12, 2009
Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar
Indonesia 1986-87, Saat Merah Putih Berkibar KOMPAS/Kartono Ryadi Ricky Yakobi (kiri) dan kawan-kawan saat mengalahkan Burma (sekarang Myanmar) 4-1 di semifinal SEA Games 1987. Indonesia akhirnya tampil sebagai juara untuk pertama kalinya.
“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku…. Indonesia raya merdeka-merdeka, hiduplah Indonesia raya….” JUTAAN anak bangsa tak kuasa menahan haru mendengar lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang di langit biru. Rasa bangga tak terkira, karena hanya para juaralah yang berhak menyanyikan lagu kebangsaannya di arena pertarungan antarbangsa. Dan, timnas Indonesia berhak menyanyikan lagu sakral tersebut sebagai imbalan mengangkangi medali emas SEA Games 1987. Untuk pertama kalinya pula, sepak bola Indonesia mampu mengibarkan bendera Merah Putih di kejuaraan antarbangsa. Saat itu, langit bulan September betul-betul terasa biru bagi rakyat Indonesia. Lewat gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 ke gawang Malaysia di partai final, untuk pertama kalinya Indonesia bisa merengkuh medali emas sepak bola di ajang SEA Games. (more…)
December 9, 2009
Argentina, Sang Juara Dunia 1978
Tempo 1 Juli 1978. Argentina berhasil sebagai juara dunia setelah mengalahkan kesebelasan Belanda di Stadion River Plate, Buenos Aires. pencetak gol terbanyak, Mario Kempes, bintang kesebelasan Argentina. (or)December 4, 2009
Berita Kalah Dari Australia
Tempo 05/III 07 April 1973. Pemain PSSI mengalami kekalahan 2-3 dari kesebelasan Irak waktu bertanding di Australia. berarti Indonesia tersingkir untuk masuk ke-16 besar kejuaraan dunia. sebelumnya PSSI mempunyai harapan.
DENGAN derap langkah tantara tertawan kesebejasan PSSI memasuki kamar pakaian. Suasana hening. Semua terdiam. Beberapa pemain duduk di lantai – terkulai. Iswadi membaringkan diri di balai pasien, seolah minta pertolongan yang pertama. Jeruk jeruk yang terkupas dibiarkan tak terjamah. Kostum merah putih yang berlambang Bhinneka Tunggal Ika basah kuyup dibasuh-keringat bercarnpur air hujan – tidak pula memburu mereka berganti pakaian. Usainya pertandingan’ ke-5 dengan skor klasik 2,-3 untuk kemenangan Kesebelasan Irak bukan saja berartj tersingkirnya Indonesia dari peluang untuk menanjak ke “16 besar” Kejuaraan Dunia. Malahan – leliih pedih lagi — mengungkit sekeranjang kenangan. “Suasananya seperti di, Rangoon saja”, gumam Suaib membangkitkan kembali saat-saat pahit dari kekalahan ‘Indonesia terhadap Israel setahun yang sham (TEMPO, 15 April 1972). (more…)
November 6, 2009
Si Hitam Dari Irian
Tempo 24 Maret 1973. Kesebelasan irian jaya yang teknik dan ketrampilannya belum pantas dipuji, kalah 2-1 dari kesebelasan hitachi dari jepang. ada beberapa pemain irian yang berbakat, yang bermain cukup lumayan.
MENGALAHKAN lawan dalam angan-angan memang terlalu gampang. Kenyataanya yang tidak selalu begitu. “Bagaimana, mau menang atau kalah?”, tanya Presiden pada anak-anak Kesebelasan Irian Jaya minggu lalu di Bina Graha. Mereka hanya tersenyum. Seperti biasanya Acub Zaenal dengan cepat menjawab: “Kemungkinan kita menaag 3-1 , pak”. Apa yang terjadi kemudias sulit untuk diramalkan Acub Zaenal. Di bawah gemercik hujan membasuh Senayan dan terlebih dahulu telah ketinggalan: 1-0. Kesebelasas Hitachi menundukkan Irian Jaya: 2-1. (more…)
November 1, 2009
Bekal Dari benfica
Setelah Evaluasi Pertama
Tempo 10 Februari 1973. Masalah pssi dibawa ke bina graha membahas tentang tim pssi yang akan diberangkatkan ke pra kejuaraan dunia di australia. kiper, ronny pasla, belum bermain prima dan pssi tak punya jago tembak.Mutunya: Eeeeh !
Tempo 3 Februari 1973. Mutu kesebelasan PSSI mengkhawatirkan. Dari kesebelasan daerah tak ada pemain yang dapat diharapkan. Ini dapat dilihat dalam pertandingan ketiga kesebe lasan: PERSIB, PERSEMA dan PSIS yang mutunya rendah.
KALA ketrampilan memamerkan dasar-dasar sepakbola, agaknya kejuaraan “3 sedang” – Persib — Persema — PSIS – minggu lalu dapat disejajarkan dengan anak-anak Gawang. Tidak seorang pun yang menonjol. Kecuali penunjukkan pada publik bahwa Max Timisela, Sonny Sandra dan beberapa nama tua lainnya belum menggantungkan sepatu bola. Mungkin hanya itu yang mengundang 15.000 penonton menyaksikan pertandingan pembuka awal tahun 1973. Lain tidak. Namun harapan pencandu sepak bola mengenai memungkinan tampilnya pendatang baru yang akan menggantikan Iswadi, Abdul Kadir atau Jacob Sihasale — pemain teras PSSI – masih belum terpenuhi. (more…)
October 25, 2009
Persija: mencari iklim baru
Sudah barang tentu tampilnya Sukahar untuk sekian kalinya di pucuk pimpinan persepakbolaan Ibukota disambut pendukungnya dengan rasa gembira, meski tidak kurang pula yang memberi reaksi urut dada. Tetapi nampaknya ada titik pertemuan di antara mereka: kewibawaan Danjen Akabri yang berpangkat Irjen Pol ini masih dirasakan dominan untuk bisa ditinggalkan begitu saja. Ini terbukti 38 dari 68 suara sidang yang direbutnya dibandingkan dengan 27 sara yang diperoleh Drs Sukendro, tokoh baru dari Ps Mahasiswa. (more…)
Dua Masalah Endang
Tempo 27 Januari 1973. Endang Witarsa ingin membahas masalah prestasi PSSI dengan para wartawan. ia menilai daya tahan pemain PSSI sangat minim. Endang juga mengkritik dokter yang menangani PSSI malas.
TULIS, saya akan pukul Australia! tantang Endang pada seorang wartawan yang sedang menyaksikan PSSI A berlatih. Apa yang harus ditulis? Jika ucapan yang klise itu cuma slogan untuk konsumsi menghibur diri dan pimpinan PSSI. Tapi tentunya yang perlu ditulis, bahwa Coach PSSI A ini takkan rnemukul lawan dengan kata-kata. Ia kini sedang sibuk mempersiapkan anak-buahnya menempuh babak kwalifikasi. Kejuaraan Dunia di Australia bulan Maret yang akan datang. “Saya ingin para wartawan ikut membahas masalahnya secara ilmiah”, kata Endang meraih simpati. Dan apa yang dikatakan masalah itu agaknya masih membutuhkan spesialisasi wartawan olahraga untuk mebahasnya. (more…)